Mengenang Gempa Jogja 2006 : Satu Menit Yang Membawa Duka

Sumber foto : Wikipedia.org

27 Mei 2006, beberapa menit sebelum jam 6 pagi. Saya yang masih tidur pulas waktu itu tetiba dibangunkan oleh suara gemuruh yang keras dan lantai kamar yang bergoyang keras, saya spontan berteriak "gempa!". Masih setengah sadar, saya langsung panik berusaha lari keluar. Kamar saya ada di lantai dua. Dan waktu itu di sana cuma ada saya dan adik laki-laki saya. Saya ingat, saya cuma bisa histeris sambil memegang tangan adik saya. Jangankan turun ke bawah, untuk berdiri dengan tegak pun susah karena guncangan yang sangat keras. Saya lihat tembok kamar seperti mau dirobohkan. Belakangan saya tahu, kalau gempa itu terjadi selama hampir satu menit, berkekuatan 5,9 SR. Dan itu,  adalah satu menit terlama dalam hidup saya.

Setelah gempa akhirnya reda, saya dan adik saya turun ke bawah. Kondisi rumah saya sudah seperti kapal pecah. Piring dan gelas pecah di lantai, buku berserakan, air aquarium tumpah... Saya masih gemetar saat berhasil keluar rumah. Di luar, semua orang sama paniknya. Ada yang menangis, ada yang sibuk menelepon, bahkan ada yang keluar rumah hanya memakai handuk karena waktu gempa dia sedang mandi. Beberapa orang menyalakan radio mencari informasi, karena listrik padam, jadi cuma bisa dengar radio, dan tidak bisa nonton televisi. Sebagian besar mengira itu gempa Merapi, yang memang sedang aktif waktu itu. Tapi ibu saya, yang pernah kuliah di Teknik Geodesi UGM bilang, "kayaknya bukan gempa vulkanik ini." Saya pun terngiang mata kuliah Geomorfologi Dasar - yang berkali-kali saya ulang tapi tetap mentok di nilai C - bahwa Pulau Jawa berada di jalur pertemuan dua lempeng benua, dan kalau dua lempeng itu bersenggolan maka bisa jadi gempa besar.

Tiba- tiba, ada segerombolan orang dari luar kompleks yang lari dengan paniknya sambil teriak, "Air! Air!" Orang-orang jadi ikut panik dan lari. Suasana kacau, adik bungsu saya ketakutan dan menangis. Saya sempat hampir ikut lari, tapi Bapak menenangkan kami, dan untung akal sehat saya masih bisa mikir, "Air darimana? Kalaupun tsunami, daerah kami jauh sekali dari laut, jadi kayaknya nggak mungkin airnya sampai sini." Belakangan saya dengar selentingan, kalau kabar tsunami itu sengaja dibuat supaya orang panik, lalu meninggalkan rumah dan hartanya, lalu orang-orang yang bikin kabar hoax itu bisa leluasa menjarah. Kabarnya begitu. 

Setelah kondisi mulai agak tenang, berita di radio mulai gencar. Awalnya diberitakan korban meninggal 5 orang, beberapa menit kemudian jumlahnya bertambah jadi puluhan, lalu jadi ratusan hanya dalam beberapa jam, dan banyak rumah dan gedung yang roboh. Saya mulai merasa ngeri, belum bisa membayangkan sedahsyat apa sebetulnya gempa itu, karena di lingkungan kompleks saya terlihat baik-baik saja. Malam itu, sebagian besar warga memilih tidur di luar. Tenda darurat didirikan di lapangan. Listrik masih padam. Gempa susulan masih terjadi beberapa menit sekali meskipun makin lama makin lemah. Ditambah pula gerimis mengundang. Sungguh bikin baper.

Keesokan harinya, saya dan Bapak pergi ke rumah Budhe saya yang di kota untuk numpang nge-charge ponsel, karena listrik di sana sudah menyala. Selama perjalanan saya baru sadar, melihat rumah-rumah yang roboh, bahkan GOR Amongrogo yang gagah itu juga rusak parah, ternyata gempa yang terjadi benar-benar dahsyat. Saat itu berita menyebutkan korban jiwa sudah mencapai ribuan, dan paling banyak di Bantul, daerah pusat gempa, yang kebetulan dekat dengan tempat tinggal saya. Perasaan saya campur aduk, antara sedih, takut, tapi juga bersyukur. Saya masih bersyukur kami sekeluarga baik-baik saja, bahkan rumah pun hanya rusak ringan. Tapi mendengar jumlah korban jiwa yang sangat banyak, mencapai lima ribuan orang, hati saya mencelos. Sedih.

Selama beberapa hari gempa susulan terus terjadi. Di beberapa daerah listrik tetap padam sampai sekitar semingguan lamanya. Toko-toko tutup dan harga beberapa kebutuhan pokok sempat melambung tinggi. Bahkan pada malam pertama gempa, harga satu liter bensin konon mencapai lima puluh ribu rupiah. Posko-posko bantuan didirikan. Relawan berdatangan. Semua bahu membahu mengatasi keadaan, meskipun trauma masih membayangi.

Sekarang, sebelas tahun kemudian, Jogja sudah move on dari bencana itu. Gedung-gedung baru dibangun menggantikan gedung-gedung yang roboh, bahkan mungkin melebihi dari yang seharusnya. Orang-orang pun mulai jarang membicarakan hari itu. Tragedi itu menggoreskan luka, terutama bagi mereka yang kehilangan orang yang dikasihi. Tapi hidup harus terus berjalan. Saya belajar banyak hal dari hari itu. Salah satu yang paling penting, adalah bahwa kita bukan siapa-siapa. Kita bukan apa-apa. Segala harta yang kita kumpulkan bisa saja lenyap dalam sekejap kalau Gusti Allah berkehendak. Bahkan nyawa sekalipun. Musibah atau bencana bisa datang kapan saja. Kalau memang jatahnya kita kena, ya kena saja. Nggak bisa menghindar. Saat itulah kita akan sadar bahwa kita butuh orang lain. Jangan pongah dan sombong, atau meremehkan orang lain. Karena sesungguhnya kita tidak bisa hidup sendiri.

Komentar

  1. Jadi ikutan baper.. Ya Allah ga kebayang deh alami yg seperti itu 😞

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya sampe sempat mikir kalau bakal mati waktu itu. Tapi Alhamdulillah, masih diberi keselamatan.

      Hapus
  2. Duh, aku sudah di Ungaran saat itu, hanya teman baikku terpaksa tidur di teras rumahnya karena takut gempa susulan ngeri banget yaa gempa waktu itu :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Keluargaku dulu sampai sebulanan tidur di ruang tamu, mbak. Biar gampang keluar rumah kalau ada gempa lagi. Bener-bener trauma. Semoga nggak ada lagi bencana kayak gitu deh..

      Hapus
  3. Hi mba...
    Aku dikaki merapi...dan ortuku di bantul.
    Awalnya aku mengira itu adalah amukan Merapi. Dan orang tuaku yang pisisinya di selatan yang kondisinya luluh lantah..mengira kondisi kmi lebih parah.

    Sama..pagi itu aku juga ketakutan isu tsunami. Bensin menipis. Kampung hlmn 80% rumah roboh ..

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer