Rock In Peace, Chester..


Hati saya masih belum sembuh dari luka atas kehilangan salah satu musisi yang saya kagumi, Chris Cornell, dua bulan lalu. Saya masih merinding dan sedih tiap dengar lagu-lagunya atau melihat foto-fotonya. Seolah belum cukup, hari Kamis subuh kemarin saya mendapati berita yang tak kalah menyedihkan. Chester Bennington, vokalis Linkin Park, yang juga adalah salah satu musisi yang saya kagumi mengakhiri hidupnya dengan cara yang sama dengan Chris. Ironisnya lagi, itu terjadi di hari ulang tahun Chris, yang adalah teman baiknya semasa hidup. Saat Chris meninggal, Chester sempat menulis ungkapan dukanya, betapa dia merasa kehilangan teman dan panutannya. Siapa sangka, dua bulan kemudian dia pun mengambil jalan yang sama.

Chris Cornell dan Chester Bennington

Saat mendengar berita itu, saya tak percaya, dan berkali-kali berharap itu cuma berita hoax. But it's true, sadly. I remember feeling upset. Like, why? How dare he did it to his fans, friends, and most importantly, to his family? Saya pun mulai mencari artikel tentang dia, tentang bagaimana kehidupannya selama ini. Saya memang bukan tipe fans garis keras yang selalu cari info tentang artis idolanya. Saya hanya sebatas menikmati karya-karyanya, bukan kehidupan pribadinya. Then I found out about his depression. 

Chester melewati masa kecil yang suram. Orangtuanya bercerai, dan dia tinggal dengan ayahnya yang selalu sibuk, sehingga dia merasa diabaikan. Dia juga mengalami kekerasan seksual selama beberapa tahun, dan dibully di sekolah. Dan untuk melarikan diri dari rasa sakitnya, dia mulai menggunakan narkoba dan alkohol. Dalam beberapa wawancaranya, dia pernah mengatakan tentang depresinya. Bagaimana dia merasa tertekan dan membenci hidupnya. Bagaimana dia tidak suka pada pikirannya. Seperti di kalimat pertama lagu Heavy, "I don't like my mind right now".


Saya mengenal Linkin Park sejak single pertama mereka, Crawling, dirilis tahun 2000. Perpaduan antara rap dan rock memang lagi tren waktu itu. Beberapa lagu masih bisa mampir di telinga saya, meskipun tak pernah benar-benar bisa saya nikmati. Tapi Linkin Park lain. Sejak pertama dengar lagunya, saya langsung suka. Salah satu alasannya, karena karakter vokal Chester, yang biarpun teriak tetap enak didengar. Sebenarnya awalnya (mungkin sampai sekarang) favorit saya di LP adalah Mike Shinoda. Alasannya karena dia keturunan Jepang, dan saya adalah penggemar jejepangan. Iya, alasan yang dangkal. Hahaha. Tapi bagaimanapun, saya juga sangat mengagumi Chester. This guy can really sing, not just screaming.

Saya mengikuti perkembangan musik mereka sejak Hybrid Theory, Reanimation, Meteora, Collision Course (kolaborasi dengan Jay-Z), hingga Minutes to Midnight. Setelah itu, saya tidak terlalu mengikuti album-album mereka lagi, karena perhatian saya sedang teralihkan ke musik punk, gegara tertular selera pacar. Meskipun begitu, lagu-lagu lama mereka masih sering saya dengarkan. Sampai akhirnya saya punya smartphone, dan menginstall aplikasi music streaming, saya download hampir semua lagunya dan selalu memutarnya hampir tiap kali saya merasa suntuk. Saya tak pernah benar-benar bisa berpaling dari Linkin Park. Bahkan di saat banyak orang mengkritik lagu Heavy, yang dianggap "menyimpang" dari akar Linkin Park, dan jauh lebih ngepop ketimbang rock, saya justru sangat suka lagu itu. That line, "why is everything so heavy?", somehow hits me hard. Saking sukanya, saya sampai beberapa kali menyanyikannya di aplikasi karaoke.

Kepergian Chester meninggalkan luka yang sangat dalam. Saya saja yang bukan termasuk fans berat merasa sedih sekali, bagaimana mereka, keluarga dan teman-temannya. Hati saya mencelos tiap kali membaca curhatan fans, bagaimana Chester dan Linkin Park telah menyelamatkan hidup mereka. Bagaimana mereka mengurungkan niatnya bunuh diri karena musik Linkin Park. Atau bagaimana Linkin Park mengubah hidup mereka, membuat mereka lebih percaya diri, menyembuhkan mereka dari depresi, atau menghubungkan mereka kembali dengan keluarga. Mereka menganggap Chester sebagai pahlawan. But ironically, he saved millions lives, but those millions couldn't save him. He lost his own battle, while he saved millions from their battles.


Saya menyesalkan kepergiannya. Tapi saya pun tidak tahu apa yang dia hadapi sebenarnya. He'd been struggling for a long time. He'd been fighting his demons all his life. It wasn't him, it was his depression that killed him, just like Chris Cornell. Saya sempat membaca beberapa komentar yang dengan sinisnya bilang, Chester punya banyak uang, dia bisa membayar terapis termahal sekalipun, tapi dia lebih memilih bunuh diri.

Sayangnya, cara kerja depresi tidak segampang itu. Sangat sulit berpikir waras ketika virusnya adalah pikiran kita sendiri. Seringkali, orang yang mengalami depresi tidak sadar kalau dia sedang sakit. Tidak sadar kalau dia butuh bantuan. Dan kemampuan masing-masing orang menghadapi depresi berbeda-beda. Dari luar memang terlihat apa yang Chester lakukan, atau Chris, atau orang lain yang bunuh diri, adalah egois. But then again, it wasn't him, it wasn't them.

Chester bukannya tidak berjuang. Kita bahkan tidak akan pernah tahu sudah berapa kali dia berperang melawan pikiran buruknya dan menang, sebelum akhirnya kalah. Begitupun dengan mereka yang mengalami jalan serupa. When people are on depression, they are their worst enemy. It's like they're in a dark room and they can't see a way out, they can't even see themselves they start to think they don't exist. Sebagian orang berhasil menemukan setitik cahaya dan merangkak keluar, tapi sayangnya sebagian lagi tidak.

Kepergian Chester dan Chris Cornell memang menyakitkan. Tapi semoga, ini membuat kita lebih awas tentang depresi dan penyakit mental yang lain. Mental illness is not a joke. Our minds can be so dangerous sometimes. Don't always listen to it. Especially when it says you're not enough, because YOU ARE. Everyone has their own battle going on inside their head. We are all fighting our demons. Don't let them win. If you're feeling depressed, like you can't take it anymore, or feeling like giving up, just remember, you are NEVER alone. There's always someone who cares about you, listens to you, and loves you. Reach out for help. You are precious. You are loved. You are enough.

And for the rest of us, don't judge easily. We don't know what's going on inside other people's head. We don't know the battle they're struggling. We don't know how much it hurts them. Don't assume. If someone we know is struggling from mental illness, embrace them. Be there for them. We don't always have the answers to their problems, but just by being there might save them.

So long, Chester. You are already missed.

Komentar

  1. dan saya adalah penggemar lagu2 LP, ringtone andalan kala SMA nih
    RIP Chester

    BalasHapus
  2. Mau mewek lagi kaan, kemarin pas denger kabar sediiih dan salah sendiri muter2 lagunya lagi dan kraaai.. Dari dulu suka sekali sama LP, etta saya punya banyak koleksi kaset pita dan bikin saya ikutan suka. In the end lagu yang dari jaman kapan berganti ganti playlist tapi lagu ini ga pernah saya hapus dari hp saya. aku setujuu This guy can really sing, not just screaming.. so heartbreaking :(

    BalasHapus
    Balasan
    1. Saya belum sanggup dengar lagu-lagunya lagi. Kemarin coba-cobs nonton video performnya sama Chris Cornell dan sukses mewek 😭

      Hapus
  3. Tahun 1994 ketika Kurt Cobain ditemukan mati, Eddie Vedder langsung merenung. Dia sadar kalau popularitas ternyata memang bisa membunuh.

    Dia (dan bandnya) makin mantap untuk keluar dari sorotan, tidak terlalu peduli pada popularitas. Mungkin itu alasan kenapa dia juga masih lumayan kuat, padahal masa lalunya juga gelap.

    Popularitas apalagi band besar dan musisi besar juga bisa jadi adalah senjata mematikan. Bebannya jadi jauh lebih besar dibanding orang seperti kita.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bebannya lebih berat, karena mereka dituntut untuk "sempurna", padahal mereka sendiri punya masalah rumit. Akhirnya tertekan dan depresi.

      Hapus
  4. ㅠㅠ Tulisan mbak ini merepresentasikan isi hati saya banget... Saya juga masih sedih mbak, masih ga percaya, masih ga terima. Ga tau kenapa, mungkin krn LP itu ikut ngeramein masa muda saya ya, jadinya biarpun sekarang saya ngga terlalu ngikutin kiprah mereka, tapi begitu tau berita ini saya bener-bener terpukul. Ini saya ngetik komen aja sambil masih nyesek. ㅠㅠ

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer