Melawan Depresi


Meninggalnya vokalis Linkin Park, Chester Bennington sekira dua bulan yang lalu masih meninggalkan luka dan rasa sedih yang dalam buat fans, teman, dan keluarganya, terutama sang isteri, Talinda Bennington. Talinda sudah menikah dengan Chester selama kurang lebih 10 tahun. Mereka berdua pasangan yang #goals banget deh. Selalu mesra (tapi ndak lebay), dan jauh dari gosip. They were so happily married. They were so in love with each other. Chester pernah ditanya apa yang dia lihat dari seorang perempuan. Dan Chester menjawab, "first, I will see if she's Talinda. If she's not, then I'll keep searching for her." Awwww.... *melts* So sweet banget kan? Chester pun sering membuat puisi untuk Talinda, bahkan salah satu puisinya pernah dia posting di akun instagramnya. We can see how much he loved her.

Puisi Chester untuk Talinda


Dicintai begitu dalam oleh Chester, kita jadi bisa membayangkan bagaimana hancurnya Talinda ditinggal Chester dengan cara yang tragis seperti itu. Tapi alih-alih tenggelam dalam rasa duka, Talinda memilih bangkit dan membuat gerakan di Twitter dengan tagar #fuckdepression dan #makeChesterproud. Dia mengajak semua orang, khususnya fans Linkin Park untuk melawan depresi, dengan berani bicara, dan saling mendukung. Tampaknya sederhana, tapi gerakan ini cepat mendapat dukungan dari banyak orang. Setiap hari Talinda membalas cuitan fans yang merasa depresi, dan mengajak fans yang lain untuk memberikan dukungan. And the awareness is raised. Ajakan Talinda dibalas para fansnya dengan positif. Makin banyak orang yang berani terbuka dengan masalahnya, dan makin banyak orang yang peduli.

Mental health is really as important as physical health. Jaga kesehatan badan itu harus, tapi jaga kesehatan mental juga penting. And in many ways, mental illness is more complicated than physical illness. Kalau sakit fisik mah gampang dilihat, tapi kalau sakit mental ndak. Depression has no face.  Bagi beberapa orang mungkin kentara kalau dia depresi dilihat dari perangainya yang murung, atau lesu, atau emosian. Tapi bagi beberapa orang yang lain, nampaknya biasa-biasa saja. Did you see Chester? He was such a funny guy. Dia selalu terlihat bahagia. Ketika diwawancara dan dia menceritakan depresinya, dia bisa bicara sambil senyum (yang mungkin bikin pewawancaranya ndak menganggapnya serius). Barulah setelah dia meninggal, semua orang baru ngeh kalau dia sebenarnya sedang minta pertolongan. Bahkan lirik lagunya sejak awal karir Linkin Park pun sebetulnya adalah teriakan minta tolongnya. But, who would've thought he was screaming for help? 😭

Baca juga tulisan teman saya, Uwien Budi : Ingin Menurunkan Berat Badan? Hindari 3 Jenis Makanan Ini

10 Oktober yang lalu diperingati sebagai World Mental Health Day. Menurut WHO, secara global ada lebih dari 300 juta orang yang menderita depresi, dan lebih dari 260 juta orang yang menderita kegelisahan (anxiety). Dan banyak di antaranya yang hidup dengan keduanya, depresi dan kegelisahan. Sungguh kombinasi yang bisa berujung fatal. Depresi yang berkepanjangan, bisa menyebabkan masalah kesehatan yang serius, bahkan bisa berujung pada bunuh diri. Just like Chester. Hampir 800.000 orang bunuh diri setiap tahunnya. Bahkan, bunuh diri adalah penyebab kematian tertinggi kedua untuk umur 15-29 tahun. Sedih, ya?

Gejala depresi biasanya berupa perasaan sedih yang berkepanjangan, kehilangan minat pada hal-hal yang biasanya disukai, atau kehilangan kemampuan mengerjakan tugas sehari-hari selama setidaknya dua minggu. Kadang penderitanya juga mengalami lesu, ndak nafsu makan, gangguan tidur, susah konsentrasi, gelisah, merasa ndak berguna, merasa bersalah, dan muncul pikiran untuk melukai diri sendiri atau bahkan bunuh diri. Seperti yang saya bilang di atas, kadang gejalanya tampak, tapi sering juga tersembunyi dengan baik.

Punya teman atau kenalan yang ada gejala seperti itu? Please, don't judge. Jangan pernah bilang, "ah, cemen lu! Masalah segitu doang lu depresi." Kita ndak pernah tahu isi kepala seseorang. Pertarungan seperti apa yang ada di dalamnya. Chester bilang di salah satu wawancaranya, "my head is a bad neighborhood." Apa yang buat kita cemen, buat orang lain mungkin suicidal. Sebaliknya, apa yang di mata kita ujian berat, buat orang lain mungkin sesuatu yang receh bingits. Everyone has their own battle. Let's start to embrace each other, instead of judge the unnecessary. Setidaknya, kalau kita ndak bisa kasih solusi atau ngomong yang baik-baik, ya diem ajalah. Jangan dijadikan bahan becandaan. Mental illnens is seriously not a joke. Berempatilah.

Sumber : Pinterest

Atau kamu sendiri pernah merasakan gejala di atas? Please, seek for help. Depresi, terutama yang sudah akut, ndak bisa diatasi sendiri. Speak up. Langkah pertama yang bisa kamu lakukan adalah bicarakan dengan orang lain, yang kamu percaya dan bikin kamu merasa nyaman, tentunya. Jangan diam saja, jangan simpan sendiri. Apalagi kalau sampai ada keinginan bunuh diri, maka kamu harus segera cari bantuan profesional. Yakin deh, kamu ndak sendiri. Selalu ada orang yang peduli. You are loved. You are worthy. You will get through this.

Selain cerita tentang depresimu pada orang lain, kamu juga bisa melakukan hal-hal yang membuatmu bahagia. Kerjakan hobimu. Get busy. Kalau kamu suka menulis, menulislah. Kalau kamu suka seni, berkaryalah. Kalau kamu suka bikin kerajinan tangan, bikinlah. Lakukan apapun yang membuatmu fokus pada hal lain, yang membahagiakan.

Sumber : Pinterest

Depresi bisa menyerang siapa saja. Ndak peduli umur berapa, jenis kelaminnya apa, kerjaannya apa. It's a monster. And we must fight it. We shall never let it win. Ever. So, yeah, #fuckdepression.

Komentar

  1. Untuk orang yang depresi memang butuh bantuan dari orang terdekat, tapi kadang kurang peka juga dengan gejala mereka yang terkena depresi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya mbak, karena kadang si penderita ndak sadar kalau dia depresi, atau kalaupun sadar, dia berusaha menyembunyikan karena berbagai alasan.

      Hapus
  2. Aku pernah berada di posisi itu. Kadang kita sendiri enggak sadar kalau kita depresi sampai it's too late.
    Semoga saja dengan banyaknya gerakan menyadarkan akan depresi, makin cepat para penderita depresi tertangani.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya semoga. Kelihatannya sederhana, tapi sedikit kepedulian bisa sangat membantu penderita depresi.

      Hapus
  3. Semua masalah dur harian saja kepada Sang Pencipta bukan kepada manusia sesama mahluk...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Betul mbak, tapi ihtiar juga penting. Kadang Tuhan menitipkan jawaban lewat sesama manusia, tapi bukan berarti kita bergantung pada sesama manusia..

      Hapus
  4. Saya pernah ada diposisi tersebut, tapi saya gak sadar kalau keadaan tersebut termasuk depresi. Belum lagi ketambahan saat habis melahirkan, terkena baby blues juga.
    Tapi perlahan-lahan saya diskusi, terbuka ke suami sehingga ada orang yang mau mendengar keluhan dan dia berusaha menguatkan dan lebih peduli :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah sudah berlalu mbak. Peran suami dan keluarga memang penting banget ya, terutama kalau kena baby blues.

      Hapus
  5. Saya jadi ingat kisah kakak beradik yang bunuh diri lompat dari apartemen, depresi juga kan itu?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya, saya baca di berita sih gitu. Sedih..

      Hapus
  6. Jadi takut deh..dengarnya.., depresi itu kehilangan semangat hidup..ya,

    Beberapa hari lalu seorang teman yg hidupnya emang rumit nulis status gini...

    "Aku lelah..ingin istirahat yg panjang.."

    Jadi kepikiran dia..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah, bisa jadi tanda-tanda depresi itu mbak. Coba diajak ngobrol, mbak. Semoga baik-baik saja.

      Hapus
  7. Aku pun pernah merasakan masa itu, depresi berat yang akhirnya larinya ke badan dan sakit. Butuh waktu dan proses untuk semangat kembali, tentunya meski dibantu temen2 deket hanya kita sendiri yang harus menyembuhkannya. Sekarang dah belajar mengelolanya, agar ga terulang lagi.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Syukurlah sudah berlalu, mbak. Semoga nda terulang lagi. Susahnya nyembuhin depresi itu karena sakitnya ndak kelihatan ya? Yang bisa ngerasain ya si penderita sendiri.

      Hapus
  8. Iya orang yang depresi sangat butuh dukungan dari org terdekatnya.
    Trus sebaiknya kalau udah ada tanda2 depresi gtu, sebaiknya hindari media sosial dan sebaiknya makin mendekat sama keluarga.
    Kalau misalnya keluarga tak bisa membantu, satu2nya jalan ya ke psikolog kali ya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah iya tuh, sosmed kadang terlalu "beracun" ya? Dan konsultasi ke psikolog memang jalan yang terbaik kayaknya kalau sudah berat depresinya.

      Hapus
  9. Temenku berasa dia depresi mbak... Tp susah bgt didekati... Ga mau diajak ngobrol atau chat. Kadang aja dia curhat tapi jaraang bgt

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalau memang sepertinya depresinya sudah berat, mungkin baiknya diajak ke psikolog mbak. Kadang mereka memang takut mau cerita, apalagi konstruksi sosial masyarakat kita yang seringnya cenderung menghakimi. Semoga teman mbak baik-baik saja ya..

      Hapus
  10. terkadang org depresi masih aja gengsi nyari bantuan kejiwaan.

    BalasHapus
  11. aku dulu penggemar linkin' park. semua winamp di kost2an nyetelnya lagu dia. duh chester, what happened to you :( rock in peace!

    BalasHapus
  12. aku termasuk yang patah hati waktu tau chester bunuh diri. depresi emang ga bisa diprediksi banget ya...
    :'(

    BalasHapus
  13. Empati sangat dibutuhkan oleh yg depresi. Fiuh..

    BalasHapus
  14. Ah, baca puisinya jadi sedih...
    Tapi memang ya depresi ini kayak hantu. Ada tapi nggak kelihatan. Semoga gerakan fuckdepression ini bisa memberi dampak baik bagi semua orang.

    BalasHapus
  15. 'Get Busy' setuju banget kalau banyak melakukan kegiatan dan hobby bisa mengalihkan banyak fikiran negatif yang ada di kepala. Depresi memang beda sama penyakit fisik, kita nggak bisa melawan depresi sendirian karena jangan ragu untuk meminta pertolongan kepada orang lain.

    BalasHapus
  16. Saya itu termasuk orang dengan risiko depresi yang tinggi, soalnya saya bukan tipe orang yang terbuka, gampang cerita sama orang apalagi curhat.

    Menulis jadi salah satu terapi saya untuk mengeluarkan sedikit isi kepala, biar tidak terlalu penuh dan ribut dalam kepala

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer