[REVIEW FILM] Baper Karena Dilan


Setelah berusaha menahan diri dan cuek selama hampir sebulan ini, akhirnya dua hari yang lalu saya nonton Dilan 1990. Awalnya saya sama sekali ndak tertarik nonton. Saya memang ndak terlalu tertarik nonton film Indonesia di bioskop. Mungkin karena sudah terlalu diracuni film-film Hollywood, jadi agak underestimate gitu sama film Indonesia. Padahal film Indonesia juga banyak yang bagus. Udah gitu, ini film tentang anak SMA. Di kepala saya, yang terbayang ya karakter anak SMA jaman sekarang kaya' yang di sinetron-sinetron itu. Bukan saya banget lah nonton begituan.

Tapi film ini rame banget diomongin. Quotes gombalan Dilan tiap hari saya baca atau saya dengar. Saya sampai hafal, bahkan sebelum nonton (saya sampai sekarang belum baca bukunya). Selain quotes aslinya, parodinya juga berhamburan di linimasa. Dari toko online, suporter sepak bola, sampai KPUD beramai-ramai bikin mΓͺmes gombalannya Dilan. Video parodinya juga seliweran tiap hari di feed Instagram atau Facebook. 

Dilan si Penagih Utang

Versi suporter sepak bola

KPUD kekinian

Dilan versi Barumbung-Rannu

Blogger yang nulis review filmnya pun sudah ndak terhitung lagi. Saya sampai sempat galau, mau nulis review juga atau ndak, karena udah agak basi sih. Rasa penasaran saya makin akut setelah baca review, komentar, caption Instagram, status Facebook, cerita teman-teman, dan lain-lain, betapa film ini berhasil membuat bukan hanya para ABG, tapi juga emak-emak sejagad Nusantara jadi baper. Emang sekeren apa sih ini barang?

Lalu akhirnya, saya pergi ke bioskop. Untuk nonton Dilan.

Saya nonton sama dua orang teman perempuan saya, yang notabene hampir seumuran. Yang satu masih single, yang satu emak-emak dua anak. Entah karena pamornya mulai turun, atau karena bioskop yang kami datangi kemarin adalah bioskop baru yang letaknya di pinggiran kota, tapi kemarin penontonnya sangat sedikit. Kayaknya ndak cukup 20 orang. Asik sih, jadi ndak ribut-ribut amat, dan kalau baper jadi ndak malu-malu amat karena cuma sedikit orang yang lihat.

Dan...

Saya baper. Hahaha.

Jalan ceritanya seperti apa ndak perlu saya ceritain kali ya. Udah pada nonton juga kan? Kalau yang belum nonton, sinopsis sampai spoilernya banyak bertebaran. Atau baca bukunya, karena katanya film ini dibuat sedekat mungkin dengan versi bukunya.

Terus, apa yang bikin Dilan segitu ramenya diomongin orang?

Well, menurut saya, dari apa yang saya rasakan, ada tiga hal yang bikin saya lumayan baper nonton film ini.

Pertama, dialognya (baca: gombalan Dilan). Meskipun semua gombalan Dilan sudah saya hafal mati sebelum saya nonton filmnya, tetep aja bikin meleleh gimana gitu waktu nonton. Hampir sepanjang film, I was like, "apa sih?" sambil senyum-senyum ndak jelas sendiri tiap Dilan gombalin Milea. PADAHAL KAN GOMBALNYA BUKAN SAMA SAYA YA, tapi saya yang salting parah. Meskipun gombalannya receh banget, tapi justru kerecehan itu yang bikin gemesh. Receh, tapi anti-mainstream. Tipe gombalan polos insan remaja yang belum rasakan bahwa yang berat itu bukan rindu, tapi mikir bayar listrik yang makin mahal, mikir tabungan sekolah anak, harga sembako yang terus naik dll dll *eh curcol*. And that is sweet. Serasa pengen pukpuk Dilan dan bilang, "jangan jadi orang dewasa, berat, kamu ga akan kuat. Jadi abege yang ngegemesin aja terus..."

Ngegombalin anak orang di telepon umum

Kedua, karakter tokoh dan akting pemerannya. Dilan digambarkan sebagai anak "bandel" di sekolahnya, anggota geng motor yang bahkan berpangkat panglima tempur, tapi sayang bunda, dan tentu saja sayang Milea. Tipe "bad boy for the world, but a gentleman for you" lah. Tapi narsis. Tapi gemesin. Dan out of the box. Di saat cowok lain dengan standarnya ngasih hadiah bunga, kue, atau boneka raksasa, dia ngasihnya TTS yang udah diisi, atau ngegombal pakai kerupuk, atau kirim tukang pijit. Sederhana tapi bikin "awwww... So sweet" *hati berbunga-bunga*. Sedangkan Milea digambarkan sebagai gadis manis, periang, baik hati, nurut sama orang tua. Yang bikin agak gemes sih, Milea gampang banget euy takluk sama Dilan. Harusnya mah jual mahalnya agak lamaan dikit gitu, biar Dilan gombalinnya juga makin lama. #ehgimana.

Akting Iqbaal Ramadhan dan Vanesha Priscilla lumayan oke. Chemistry nya dapet banget. Meskipun di beberapa adegan ketawanya Dilan atau nangisnya Milea masih kurang natural sih. Tapi semua tertutupi oleh tatapan matanya Dilan, atau Iqbaal, yang yaampun banget. Bikin banyak emak-emak lupa diri. Dia berhasil melebarkan sayapnya dari idola remaja menjadi idola emak-emak gegara jadi Dilan. Dia telah menjelma dari anak-anak yang nyanyi "eeaa eeaa" menjadi pemuda gagah dengan tatapan tajam setajam silet, memerankan cowok romantis receh ngegemesin. Itu sudah. Sukses membuat banyak emak-emak lupa umur dan lupa diri, sampai stalking dan follow akun Instagramnya, lalu histeris sendiri macam fan girl, dan berakhir merasa hina. Teman saya yang emak-emak anak dua itu malah sampai bilang ke suaminya, kalau dia jatuh cinta sama Dilan. Mungkin dia berharap suaminya cemburu, tapi malah dijawab, "Alhamdulillah, normal jeki..." Hahaha. Vanesha juga ndak kalah ngegemesin sih. Meskipun sepertinya untuk beberapa saat ke depan dia akan terus dibandingkan dengan kakaknya, Sissy Priscilla, tapi dia punya potensi yang cukup bagus sebagai aktris.

Si Panglima Tempur geng motor

Ketiga, nostalgia. Film ini berlatar belakang tahun 1990. Ini adalah alasan tambahan yang cukup kuat buat penonton seumuran saya : untuk bernostalgia. I have to admit, setting filmnya juara. Hampir semua kelihatan '90an banget. Dari seragam sekolah, jam tangan, ikat pinggang, tas, motor, angkot, mobil, buku tulis bersampul kertas coklat, bolpoin Pilot, jaket, novel Olga, cara Dilan ndak bawa tas dan cuma nyelipin satu buku tulis di saku belakangnya, sooo '90s. Mata saya dimanjakan oleh pernak pernik vintage yang keren-keren, sprei quilt bernuansa shabby, dream catcher di kamar Milea, sarung bantal crochet, peralatan makan cantik... Serasa pengen saya bawa pulang semua itu.

Novel favorit saya ituu

Penonton yang seumuran Iqbaal mungkin ndak terpengaruh sama hal ini. Tapi buat (mantan) anak muda yang besar di tahun '90an, nostalgia ini cukup mengaduk-aduk emosi. Terus keinget deh tuh, gimana jaman sekolah dulu. Ketika jalan kaki pulang sekolah sama-sama, atau pas dapat surat dari pemuja rahasia, atau nelepon gebetan pakai uang koin, atau harap-harap cemas nungguin telepon. Mungkin itu sebabnya Dilan bilang rindu itu berat, karena dulu orang kalau mau melepas rindu harus ada perjuangannya. Minimal sedia koinan segepok lah. Itu kalau yang digebet punya telepon rumah. Kalau ndak ya gelisah aja nunggu sampai besok ketemu di sekolah. Kaya' saya dulu #eh. Anak jaman sekarang mana ngerti, kalau rindu tinggal buka ponsel, terus ketik pesan, udah. Masalah baru ada kalau kehabisan kuota. Buat anak jaman sekarang, yang berat itu bukan rindu, tapi kangen. *if you know what I mean*

Ini bangke sih πŸ˜‚πŸ˜‚

Tapi ya cuma itu. Buat saya sih, film ini terlalu ringan. Malah kalau mau jujur sih sebenarnya cenderung flat, datar. Konfliknya hampir ndak ada. Ada sih, tapi terkesan lewat begitu saja tanpa penyelesaian yang berarti. Waktu sekolah Dilan-Milea diserang geng motor, atau waktu Dilan mukul gurunya, atau waktu pacar Milea datang marah-marah sama Milea, atau waktu Dilan mau balas nyerang geng motor musuhnya, atau waktu Dilan berkelahi sama Anhar yang nampar Milea, semua lewat tanpa greget. Serasa pengen nanya, "udah, gitu doang?" Ndak ada tegang-tegangnya. Kaya' orang mau bersin tapi ndak jadi. Tanggung. Fluktuasi emosinya bisa dibilang hampir nda ada. Manis aja gitu, nda ada pahit-pahitnya. Ada, tapi dikit banget, hampir ndak terasa. Bagian cerita pas Milea sedih karena merasa ndak enak sama Dilan pun, kaya' ndak sampai emosinya ke penonton. Datar. Padahal saya ini termasuk cengeng, gampang ikut mewek kalau lihat adegan sedih.

Efek bapernya memang dahsyat. Tapi ya pas saat itu saja. Saya ndak bisa move on cuma sampai sehari sesudahnya. Manisnya ndak tahan lama. Semacam permen karet, pertama dimakan manis sekali, tapi lama-lama jadi hambar.  Buat saya sih, ini bukan tipe film yang pengen saya tonton berulang-ulang. Saya suka, tapi sekali aja cukup. Lain dengan Ada Apa Dengan Cinta (1 dan 2), Perahu Kertas, Laskar Pelangi, atau Janji Joni Meskipun sama-sama ringan, tapi meninggalkan kesan yang lebih tahan lama buat saya.

Film ini mungkin ndak cocok buat yang suka dengan cerita yang "berat". Tapi buat mereka yang merasa jiwanya kering dan haus rayuan manis serta butuh hiburan, bolehlah. Sesekali kita butuh loh, gombalan-gombalan receh demi menghadapi kehidupan yang keras ini. #halah. Asal bapernya jangan kelamaan. Inget anak, Mak. Karena yang berat itu bukan rindu, tapi ngurus anak.

Ayi, Makassar 2018.

Komentar

  1. Hhaha mba Ayii, aku ngebayangin kalau digombain gitu bisa senyum2 kayak mba Ayi atau bisa aja muka datar kayak aku :p Tapi emang film ini katanya bikin baper ya mba. Aku sih belum nonton tapi tertarik juga

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati kalau mau nonton, mbak. Nanti ngefans sama Iqbaal. 😁

      Hapus
  2. Wahh review filmnya hampir sama dengan kak ayi πŸ˜πŸ˜πŸ˜‚πŸ˜‚

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hehehe... Makasih udah baca ya 😊

      Hapus
  3. Aku belum nonton 😭😭, baca ini langsung baper karena pengen banget ngerasain senyum senyum sendiri liat dilan menggombal.
    Bagus ayi review, bikin yang baca tergerak untuk menonton πŸ˜‚.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hati-hati, Teh... Nanti masuk barisan emak-emak lupa diri gegara Dilan

      Hapus
  4. Ketawa sendiri baca review emak-emak, haha, iya mak ini kenapa banyak yang mendadak lupa umur :D aku sendiri baru baca novelnya sampai Milea, iya sih baper, tapi beberapa hari aja, ga tau kalo nonton filmnya ya, wkwkwk. Mungkin di Dilan 1991 baru ada konflik, soalnya disitu ceritanya Dilan mau tawuran dan putus sama Milea *eh koq spoiler banget sih *ditimpuk massa

    BalasHapus
  5. Aku belum nontooooon *terus nangis di pojokan
    Nggak ada yang dititipin anak, jadi cuma mupeng bacain review sama ketawa nggak jelas mbacain meme di temlen :D

    BalasHapus
  6. aaahhh Dilaan..
    Milea KW dataang niy..
    Aku aja masih Baper ini, nonton pas awal tayang trus beberapa kali antar temen, ga bosen2..
    Sungguuh penomenal..

    BalasHapus
  7. Hahaha saya blm nonton. Bukannya apa2, bingung nitip anak wkwkwk.
    Dilan ini termasuk sukses krn jd pembicaraan org2 ya, satu2nya yg ngalahin cuma Vicky wkwkwk

    BalasHapus
  8. Saya pun bapernya masih awet sampe sekarang, soalnya tau Dilan sejak 2 tahun lalu, saat buku itu nangkring di kamar Alifah. Makanya begitu tayang, gak butuh mikir saya cuzzz nonton jadi hypenya masih ON banget ��
    Ini malah pengen nonton lagi!

    BalasHapus
  9. Meski Dilan Milea berseliweran di timeline, aku ga gitu ngurusin sampai baca review ini trus lihat. Ya ampun, Iqbaal makin ganteng aja sih! Hahahah. Ah ntar jadi khilaf kalau nonton Dilan. Ga usah deh (nunggu di tipi aja)

    BalasHapus
  10. Hahaha lucunya cara Ayi menulis. Suka gayanya.

    Terutama bagian 3 emak trus yg sudah nonton merasa hina hihi.

    Buat emak receh tapi bikin baper nah berhasil bikin baper seindonesia rayalah kesuksesan film ini. ��

    Endingnya manis,yg berat itu ngurus anak, Mak. Makanya setelah nonton, gombalan lewat hihihi.

    Eh, kalo gombalan ayahnya Kirana dulu kayak gombalan Dilankaah? #keponyaaa ������

    BalasHapus
  11. bikin baper bangets nih mbak bc reviewnya...

    BalasHapus
  12. Wkwkwkwj.. Duuuh yg meme nagih utang lucuk :p. Aku jlblm nonton mba film ini. Tapi pgn bgt cari novelnya. Aku lbh suka baca novel sih drpd nonton filmnya gini.. Tp kmrn2 aku sering banget nontonin trailernya, dan gitu aja udh bikin aku ngerasain baper juga :p . Apalagi liat muka si Dilan yg memang 90an banget model rambut dan stylenya dia :p.

    BalasHapus
  13. Gombalan serious bikini Emak Emak kembali ke masa lalu

    BalasHapus
  14. Sampai-sampai di sini Poltabes juga buat meme tentang Dilan dan Milea karena berkendara tanpa helm haha. Lucu. Polisi zaman Now. Memanfaatkan momen dengan tepat.

    BalasHapus
  15. Dilan..... Galihnya anak muda jaman now hihihiii

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer