Lebih Baik Sakit Gigi Daripada Sakit Hati (?)


Salah satu hal yang saya sesali dari masa lalu saya adalah, tidak memperhatikan kesehatan gigi dengan baik. Sikat gigin sih rajin, sehari dua kali. Tapi ya cuma itu doang. Nda pernah berkunjung ke dokter gigi untuk periksa. Terlalu pede saya orangnya, merasa bahwa toh selama ini saya nda pernah sakit gigi, jadi pasti gigi saya baik-baik saja. Padahal jauh di dalam lubuk hati, saya menyadari kalau sebenarnya gigi saya ini tidak sehat. Tumbuhnya saja tidak beraturan. Belum lagi karang gigi, dan satu dua gigi yang saya duga berlubang.

Tapi saya tetap malas pergi ke dokter gigi. Saya pikir, ah, nda sakit ini. Ngapain ke dokter.

Sombong. Hahaha.

Lalu, pelan-pelan saya mulai dihantui sakit gigi. Awalnya cuma senut-senut kecil. Sebentar juga hilang. Saya masih bisa cuek. Lama-lama senut-senutnya makin nda main-main. Sekali nyut lumayan bikin kepala saya migrain. Saya masih mencoba bertahan. Sampai akhirnya, si sakit gigi bete karena dicuekin terus, dan memutuskan untuk menyerang dengan segenap jiwa.

Gigi geraham bungsu saya rasanya ngilu bukan main. Jangankan kena makanan keras, kena lidah saja sakitnya oh Tuhaaaan... Berhari-hari saya sakit kepala saking ngilunya. Tidur tak nyenyak, makan tak enak.

Saya pun menyerah dan memutuskan pergi ke dokter gigi. Kebetulan tetangga saya yang seorang dokter gigi buka praktik di rumahnya. Maka ke sanalah saya pergi. Itulah saat pertama kali dalam hidup, saya menginjakkan kaki di ruangan dokter gigi. Grogi saya. Duduk di kursi periksanya nda santai, kayak orang mau disetrap.

Si Ibu dokter hanya memeriksa beberapa detik, langsung bilang, "aih, baring mi ini tumbuhnya gigita. Harus dicabut."

And I was like, okesiap!

Saya nda tau, pertempuran apa yang akan saya hadapi. Main siap-siap aja. Ibu dokter lalu memberikan saya obat antibiotik dan pereda nyeri, karena kondisi gigi saya yang sakit, nda bisa kalau langsung dicabut. Beliau juga memberikan saya surat rujukan untuk cabut gigi di Pusat Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut, karena posisi gigi yang miring mengharuskan saya melewati tahap rontgen gigi terlebih dulu, dan pelayanan itu nda tersedia di tempat praktiknya maupun di puskesmas. Untungnya saya sudah punya BPJS, jadi nda perlu pusing dengan biayanya yang konon harganya lumayan.

Seminggu kemudian, saya baru pergi ke Pusat Pelayanan Kesehatan Gigi dan Mulut di Jalan Lanto Daeng Pasewang (baru-baru ini diresmikan sebagai Rumah Sakit Umum Daerah Gigi dan Mulut). Saya pergi dengan semangat membara, gigi yang sakit, dan informasi yang minim. Entah karena kepedean, atau karena sudah nda bisa mikir saking stresnya sama sakit gigi, saya nda kepikiran untuk cari-cari info tentang prosedur cabut gigi. Main pergi-pergi aja gitu. Nda sempat sarapan pula, yang ternyata adalah keputusan yang salah. Hahaha.

Saya berangkat dari rumah sekitar jam 9 pagi, setelah semua urusan di rumah selesai. Namanya juga emak-emak, harus rempong dulu urus anak, masak, bersih-bersih rumah, baru bisa keluar. Sampai di PPKGM langsung ambil nomer antrian. Gedung PPKGM ini lumayan luas. Terdiri dari dua lantai, ada IGD di bagian depan yang waktu itu baru akan diresmikan. Loket pendaftaran pasien ada di tengah, di bagian depan. Untungnya hari itu tidak terlalu banyak antrian. Kurang dari setengah jam, tiba giliran saya. Saya menyerahkan surat rujukan, kartu BPJS, dan KTP kepada petugas loket. Lalu mbak-mbak petugas loket mencatat data-data saya dan membuat kartu pasien. Saya kemudian disuruh menunggu di ruang periksa, di sebelah kanan loket.

Di ruang periksa, saya cuma ditanya-tanya tentang kondisi tubuh saya, apakah punya alergi obat, maag, atau sedang hamil, dicek surat rujukan, terus disuruh foto gigi. Proses foto gigi berlangsung singkat, padat, dan bikin mual. Jadi petugas rontgen memasukkan semacam sepotong plastik berwarna hitam ke dalam mulut saya, dan menempelkan di gigi geraham belakang saya. Lalu petugas tadi menempelkan alat lain (alat rontgen nya) di pipi saya, tahan beberapa detik dan sudah, selesai. Saya nda ngerti sih apa yang terjadi, yang jelas waktu plastik kecil itu ditempelkan ke gigi saya rasanya nda nyaman banget. Untung cuma beberapa detik.

Selesai dari ruang Radiologi, saya balik lagi ke ruang periksa, dan setelah dokter di ruang periksa melihat hasil fotonya, saya pun disuruh ke ruang bedah mulut yang letaknya tepat di samping ruang periksa. Serem ih judulnya, "Bedah Mulut".

Ruang Bedah Mulut ini lumayan luas. Ada 5 kursi periksa gigi dan banyak dokter di dalam. Saya harus menunggu antrian beberapa orang sebelum akhirnya disuruh duduk di kursi ajaib itu. Dan saya pun mulai tegang, duduknya nda santai banget. Setelah memeriksa sebentar kondisi gigi saya, dokter mulai melakukan prosedur pencabutan gigi. Pertama, beliau menyuntikkan obat bius di gusi saya.


Oh, Tuhaaaan...

Jangan tanya rasanya seperti apa. Ngilu. Pake banget.

Dokter berkali-kali menyuruh saya untuk jangan mengunci badan. "Rileks saja, janganko kunci badanmu," katanya. Maunya saya juga rileks, dok. Tapi ini badan otomatis tegang begini kasihaaan... Sesudah disuntik bius, dokter menyuntikkan lagi (sepertinya) bius kedua. Bukan disuntik seperti yang pertama, tapi semacam ditembakkan di area sekeliling gigi. Sebenarnya yang kedua kali ini sudah tidak terlalu sakit, tapi mungkin karena sayanya yang parno tetap saja ndak bisa santai.

Setelah prosesi suntik menyuntik, dokter mengambil tang dan obeng, eh salah, tang gigi untuk mencabut gigi saya. Perawat di samping saya terus menerus berkata dengan lembut, "tenang ya bu..." Anuh, ini operasi cabut gigi atau mau lahiran? Agak butuh perjuangan sepertinya, dan saya beberapa kali dengar bunyi "krek" dari gigi saya. Nda sakit sih, cuma pegel mangapnya. Pas akhirnya gigi tercabut juga nda terasa, tahu-tahu dokter sudah menjahit gusi saya. Selesai dijahit, saya diminta menggigit gulungan kain kasa untuk menghentikan pendarahan, dan diminta untuk datang kembali seminggu kemudian untuk membuka benang jahitan.

Selesai dari ruang bedah mulut, saya ke loket apotik untuk menebus obat. Ada 2 macam obat yang saya terima, antibiotik (saya lupa namanya), dan ibuprofen untuk menghilangkan nyeri. Selain itu saya juga diberikan vitamin. Oya, ada beberapa aturan yang harus saya patuhi paska operasi ini, antara lain :

1. Gigit kapas/kain kassa selama 2 jam. 
Ini dimaksudkan untuk menghentikan pendarahan. Kalau kapas atau kain kassa sudah penuh dengan darah, bisa diganti dengan kain kasa yang baru.

2. Dilarang kumur-kumur, meludah, atau menghisap gusi dengan keras.
Berkumur dengan keras bisa mengganggu proses pembekuan darah. Apalagi  Memang sih, nda nyaman banget. Apalagi setelah gigi dicabut, produksi air liur meningkat. 

3. Dilarang merokok dan minum alkohol selama 24 jam pertama.
Ini yang paling gampang, biar seumur hidup juga saya sanggup.

4. Dilarang mengunyah pada bagian gigi yang dicabut. 
Selain karena sakit, dikhawatirkan juga makanan akan masuk ke lubang gusi, dan kalau numpuk, bisa menyebabkan infeksi.

5. Dilarang menyentuh/memain-mainkan gusi yang dicabut giginya dengan lidah. 
Ini supaya luka bekas pencabutan gigi cepat menutup dan pulih.


Karena saya sok tahu, sesudah cabut gigi bukannya langsung pulang eh malah jalan-jalan ke mall dulu. Keterlaluan sih memang, hahaha. Setelah efek obat bius memudar, dan saya mulai merasa kesakitan baru deh sadar, harusnya mah langsung pulang saja. *toyor*. Ya saya kan seumur-umur nda pernah berurusan dengan obat bius, jadi nda paham kalau setelah efeknya hilang bakalan terasa sakit. Antara bego dengan naif ini sih. πŸ˜…

Untungnya saya masih bisa sampai rumah dengan selamat, nda pingsan di jalan. Padahal asli nyut-nyutan banget kepala dan gusinya. Terus sampai rumah, karena kelaparan ya saya makan dong (sudah lewat 2 jam, jadi sudah boleh makan). Daaan, saya makan mie instant panas, pake nasi! YA JELAS NGILU LAH YAAAA.... Kalau ada dokter gigi di samping saya waktu itu pasti saya ditoyor-toyorin tuh. πŸ˜…πŸ˜…Belakangan saya baru googling dan tahu kalau habis cabut gigi nda boleh dulu makan atau minum yang panas dan bertekstur keras. *tabok*

Efek yang saya rasakan paska cabut gigi sungguh bukan hal yang indah untuk dirasakan. Bengkak sih Alhamdulillah nda, tapi jadi susah mangap dan sakit banget waktu menelan. Pas saya tanya teman saya yang dokter gigi, jawabannya, "wajar ji itu, Kak. Tunggu-tunggumi, biasa seminggu itu begitu." Okesip. 😭😭😭 Jauh di lubuk hati saya yang terdalam saya menyesali segala drama cabut gigi ini, huhuhu...

Sesuai waktu yang ditentukan, saya kembali ke Rumah Sakit seminggu setelah cabut gigi untuk mencabut benang jahitan. Kali ini saya sudah agak cerdas sedikit dengan membekali diri dengan beberapa informasi tentang prosedur pencabutan benang. Prosesnya cukup singkat. Setelah mendaftar di loket, saya ke Ruang Periksa untuk menanda tangani beberapa berkas, lalu ke Ruang Bedah Mulut. Kondisi Ruang Bedah Mulut sedang sepi pasien, jadi saya langsung ditangani oleh dokter, hanya butuh beberapa menit dan saya dinyatakan telah melewati segala proses pencabutan gigi dengan sukses.

Akhirnya, oh Tuhaaaan...

Lalu apakah kegalauan saya masalah pergigian sudah selesai? Sebelum dokter mencabut gigi saya, beliau sempat bertitah agar saya menambal gigi sebelahnya karena ternyata juga berlubang. Err... Nanti-nanti dulu deh kayaknya.

Lalu terdengar suara batin dengan full echo, "mau nunggu sampai sakit terus harus dicabut lagi?"

Huaaaa, tidaaak....

Komentar

  1. lucu banget cara nulisnyaa πŸ˜‚πŸ˜‚.. bgus tulisannyaaa mbak. wah wahh,, bisa langsung cabut disana yahh.. saya bru dua kali rontgen disana.. Ditambal mbak,, biar lebih enak pas ngunyah. dan coba scaling,, biar pengalamannya nambah.. memperkaya hubungan dengan dr. gigi. πŸ˜‚.. apa lgi klo gusinya sering bedarah, misl pak sikat gigi.. sebaiknya segera scaling..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Harus dicabut karena memang posisi giginya salah, saya mah maunya nda usah cabut-cabutan, huhuhu... Nanti-nanti dulu deh, atur nafas dulu. Trauma, hahaha. *ditoyor dokter gigi*

      Hapus

Posting Komentar

Postingan Populer