Ramadhan di Masa Kecil



Tanpa terasa, Ramadhan tahun ini sudah sampai akhir. Saya dong, sudah bolong puasanya di akhir minggu pertama kemarin. Padahal maunya sih "libur" puasanya pas akhir-akhir saja, biar bisa icip-icip kalau bikin kue, hahaha.

Ramadhan kali ini entah kenapa saya bawaannya loyo terus. Malas mau ngapa-ngapain, ma to the ger berat. Rasa-rasanya energi saya terserap habis, padahal saya juga ndak ngapa-ngapain juga. Rencananya pengen bebikinan ini itu, nyobain craft baru, jahit gorden, bikin produk baru untuk Craftziness (merek produk craft saya), dan lain-lain, dan lain-lain. Tapi sampai H-2 lebaran ini baru bisa menyelesaikan satu gambar mandala. Malas kok dipiara... *toyor*

Setiap Ramadhan begini, ingatan saya selalu melayang ke masa kecil dulu. Saya bersyukur, Ramadhan di masa kecil saya sangat menyenangkan. Bulan Ramadhan adalah bulan yang paling saya tunggu-tunggu sepanjang tahun. Saya sendiri sih, baru mulai puasa sehari penuh waktu saya SD, tapi lupa umur berapa. Kalah sama Kirana, anak saya, yang tahun ini sudah mulai puasa sehari penuh, meskipun cuma empat hari, hahaha.

Ritual bulan Ramadhan saya waktu kecil dimulai saat sahur. Ndak pernah ada menu spesial sih, ya seperti menu biasa sehari-hari. Selepas sahur, kami biasa shalat subuh berjamaah di masjid. Kadang dilanjutkan jalan-jalan di sekitar kampung kalau pas hari libur sekolah. Oh iya, masa kecil saya dihabiskan di sebuah kampung bernama Mangkuyudan, di tengah kota Jogja.

Sore hari selepas Ashar, saya bersiap-siap pergi ke sekolah Ramadhan. Jadi dulu, di kampung saya ada kegiatan sekolah Ramadhan tiap sore untuk anak-anak. Lokasinya di sebuah bangunan sekolah di samping masjid yang sudah tidak digunakan lagi. Sekolah itu tutup karena kekurangan murid, lalu bangunannya digunakan untuk kegiatan masyarakat, salah satunya sekolah Ramadhan ini.

Seperti halnya sekolah biasa, di sekolah Ramadhan ini anak-anak dibagi dalam beberapa kelas sesuai dengan usianya. Yang dipelajari macam-macam, dari membaca Al-Quran, sejarah Islam, kisah para Nabi, hukum Islam, hafalan surat pendek, dan sebagainya. Yang mengurusi sekolah Ramadhan ini adalah para remaja masjid. Mereka juga bertindak sebagai guru di situ. Namanya juga sekolah, ada sistem penilaiannya juga. Setiap hari kehadiran para murid dicatat, dan di akhir Ramadhan ada ujian. Yang mendapat peringkat teratas mendapat bingkisan yang diberikan pada saat halal bi halal di hari raya Idul Fitri.

Belajar mengaji di sekolah Ramadhan
(Foto : Pixabay)

Menjelang waktu berbuka, para remaja masjid sudah sibuk membuat dan membagikan takjil, baik untuk anak-anak di sekolah Ramadhan, maupun orang-orang yang ada di masjid. Menunya ndak pernah yang aneh-aneh. Segelas teh hangat, dan sepotong snack, entah itu gorengan atau kue, cuma itu. Tapi biarpun menunya sederhana, rasanya tetap nikmat banget. Setelah berbuka, kami lalu shalat maghrib berjamaah di masjid, baru pulang.

Berbuka puasa cukup dengan teh hangat
(Foto: Pixabay)

Di rumah, kami makan malam, lalu siap-siap pergi tarawih. Kalau ngomongin soal menu Ramadhan, seingat saya ndak pernah ada menu spesial di keluarga saya. Buka puasa ya cuma itu tadi yang di masjid. Makan malam ya menu biasa sehari-hari. Kalaupun buka puasanya di rumah, paling ya cuma teh manis hangat dan kue. Jarang sekali ada es tujuh rupa macam-macam warnanya. Buat saya sendiri sih, waktu itu ndak terlalu mikirin pengen makan ini itu kalau buka puasa. Saya lebih excited pergi ke sekolah Ramadhan daripada mikirin makanan.

Saat tarawih adalah saat menyenangkan lainnya. Anak-anak punya tempat shalat tarawih sendiri, bukan di masjid, tapi di Balai RK (Rukun Kampung). Lagi-lagi, yang ngurusin tarawih anak-anak ini para remaja masjid. Mereka bertindak sebagai imam dan yang jagain anak-anak biar ndak ribut. Karena makmumnya anak-anak yang notabene gampang bosan, maka surah yang dibaca pada saat tarawih adalah surah-surah pendek. Kultumnya berupa dongeng, atau kisah-kisah Nabi. Pokoknya dibuat agar anak-anak tertarik untuk mendengar dan ndak ribut sendiri. Kalaupun ada yang ribut ndak pernah tuh ditegur dengan galak.

Selepas shalat tarawih, kakak-kakak pembina itu akan membagikan buku tabungan yang sebelumnya disetor waktu sekolah Ramadhan. Jadi, selain belajar, anak-anak di sekolah Ramadhan juga diwajibkan menabung selama bulan itu. Nanti tabungannya akan diambil saat tarawih terakhir. Saya masih ingat, pernah tabungan saya terkumpul empat ribu rupiah, dan saya belikan sajadah untuk lebaran. Itu pertama kalinya saya membeli sesuatu dengan uang tabungan saya sendiri. Waktu itu umur saya belum genap 8 tahun. Senangnya bukan main. Sajadahnya masih ada tuh, dan masih dipakai sampai sekarang.

Di hari-hari terakhir Ramadhan, anak-anak akan disibukkan dengan latihan takbir keliling. Di kecamatan kami selalu diadakan lomba takbir keliling setiap malam Idul Fitri. Anak-anak latihan berbaris sambil takbir biar kompak, kakak-kakak pembinanya sibuk membuat lampion sebagai atraksinya. Rute takbirannya kelililng kampung dan berkumpul di sebuah lapangan tempat penilaian. Kalau di hari biasa mungkin jalan sejauh itu bikin capek. Apalagi sepanjang jalan kami membawa obor. Lumayan pegel lah. Tapi kami bahagia, jadi capeknya ndak terasa.

Lalu tibalah hari raya Idul Fitri. Kami biasa berjalan kaki menuju lapangan Mantrijeron, tempat shalat Ied diadakan. Saya dan adik perempuan saya pakai baru kembaran yang dijahit oleh Ibu, sedangkan adik-adik cowok saya biasanya pakai kemeja baru yang dibeli. Lapangan itu adalah lapangan sepak bola, terletak di belakang sekolah saya. Orang-orang se-kecamatan shalat Ied-nya di situ. Di sekeliling lapangan banyak penjual, dari balon sampai makanan, sate madura, es krim, permen kapas, gulali, dan yang ndak pernah ketinggalan : endhog abang (telur merah). Endhog abang ini sebetulnya cuma telur rebus biasa, tapi diberi warna merah, kemudian ditusuk dengan bambu dan diberi hiasan warna-warni. Telur khas Jogja ini punya makna filosofi yang mendalam, telur melambangkan kelahiran, warna merah melambangkan kesejahteraan, dan ruas bambu melambangkan hubungan dengan Tuhan.

Shalat Ied di lapangan
(Foto : google)

Pulang shalat Ied kami biasa mengambil rute yang berbeda dengan rute waktu berangkat. Rasanya perjalanan pulang lebih lama dari waktu berangkat. Bukan karena jaraknya lebih jauh, tapi karena seringnya berhenti untuk salaman tiap ketemu tetangga atau orang yang dikenal. Setelah sampai di rumah, kami sarapan, lalu bersiap-siap pergi ke masjid. Ibu jarang memasak menu spesial lebaran di rumah, karena kami biasa merayakan Idul Fitri di rumah Mbah Kakung.

Masjid penuh dengan orang se-kampung. Tradisi di kampung saya dulu, tiap habis shalat Ied dilanjutkan halal bi halal di masjid. Seusai mendengarkan ceramah Idul Fitri, kami lalu saling bersalaman dengan seluruh warga yang hadir, diiringi dengan lagu-lagu rohaninya Bimbo. Suasananya bahagia dan haru, bahkan ada yang sampai tangis-tangisan segala. Anak-anak ndak kalah hebohnya, lari ke sana ke mari, pamer baju baru, salaman sama sesama teman kayak lama ndak ketemu, padahal malam sebelumnya juga takbiran bareng.

Sepulang dari masjid, saya dan keluarga bersiap-siap untuk pergi ke rumah Mbah, dari pihak Ibu saya. Kami selalu merayakan lebaran di sana. Ibu saya berasal dari keluarga besar. Beliau anak kelima dari tujuh bersaudara. Sepupu saya waktu itu masih 10 orang ditambah  saya bersaudara 4 orang. Semuanya hampir seumuran. Kebayang kan ramenya? Biasanya kami semua menginap beberapa malam di sana. Ngabisin kue lebaran, main kembang api, pergi sama-sama ke rumah Mbah Buyut, dan ngabisin uang angpau.

Sejak menikah, saya belum pernah merasakan lagi suasana lebaran di Jogja.  Selain karena harus jagain mertua yang sakit dan ndak bisa ditinggal, harga tiket lagi lucu-lucunya kalau libur lebaran begini. Tapi mudah-mudahan nanti ada rezeki deh kapan-kapan biar bisa kayak rangorang ngerasain mudik lebaran. Oh ya, kalau kamu, punya kenangan apa tentang Ramadhan di masa kecilmu?

Komentar

  1. Wah keren kak cerita tntang ramadhannya apalagi critanya hampir sama dengan saya, jdi bisa juga nostalgia masa lalu hehehe, sukses kak

    BalasHapus
  2. Sukaaa cerita Ramadan masa kecilnya. Penasaran soal taraweh untk anak-anak, masih begitukah sampai sekarang?

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer