Serunya Berburu Kenangan


Sesungguhnya yang namanya manusia itu ndak pernah betul-betul bisa move on. Pasti ada paling tidak satu atau dua hal yang terus tersimpan di dalam hati dan ingatan, dirawat baik-baik atas nama kenangan, lalu sesekali ditengok kembali atas nama nostalgia. Pasti ada setidaknya sebait lagu, sehirup aroma, sepenggal adegan film, sebuah benda  apapun bentuknya, yang seketika bisa membawa kita semacam melintasi waktu kembali ke masa kenangan itu dibuat. Lalu ketika sadar meninggalkan kita dengan perasaan campur aduk, sedih, bahagia, konyol, atau sekadar menye-menye.
Demikian pula saya. Ditambah lagi saya ini orangnya suka mellow ndak jelas gitu. Kalau ada sesuatu yang mengingatkan saya pada masa lalu, langsung deh baper berat. Terjebak nostalgia, kalau kata Raisa. Lalu berharap kalau Doraemon itu benar-benar ada dan mau pinjam mesin waktunya demi merasakan kembali masa lalu dengan sedikit modifikasi di sana sini. Please, tell me I'm not alone on this?

*****

Pagi itu saya lagi nungguin Kirana di sekolahnya. Dia masih harus ditungguin karena masih hari kedua sekolah, dan orang tua siswa masih dibutuhkan untuk urus ini-itu. Bete, karena ndak banyak orang yang saya kenal, dan saya bukan tipe orang yang gampang bergaul dengan orang baru, ndak ada hal lain yang bisa saya lakukan selain membuka sosial media saya.
Lalu, mata saya tertumbuk pada sebuah postingan seorang teman, yang membagikan sebuah foto,

"DIJUAL MURAH KOMIK & NOVEL
HANYA 13 HARI SAJA, MULAI 17 JULI - 31 JULI 2018.
TERSEDIA BERBAGAI JENIS KOMIK & NOVEL
- BUKU KOMIK HARGA RP 1.000
- BUKU NOVEL HARGA RP 3.000-5.000"


Kurang lebih begitu tulisan di foto tersebut, dan ada beberapa foto lain yang menunjukkan tumpukan buku, yang jumlahnya mungkin ribuan, tersusun rapi. Mulut saya auto menganga melihat itu. Aaaakk! Komiiik! Seribu perak doang! Aaaak!!! Kalau ndak ingat saya ada di tempat umum, mungkin saya sudah jingkrak-jingkrak histeris deh.

Saya suka banget komik. Komik Jepang, lebih tepatnya. Meskipun ceritanya kadang-kadang absurd, tapi seru. Saya bisa betah berjam-jam duduk menghabiskan beberapa seri komik sekaligus. Tapi itu dulu. Seingat saya, terakhir baca komik waktu saya masih kuliah. Dulu saya ndak sanggup beli, bisanya cuma sewa di rental komik, seharga 300-500 rupiah per buku untuk sewa 3 hari. Biasanya sekali sewa sekaligus 5 buku, karena sewa 5 gratis sewa 1. Uang jajan saya habis untuk sewa komik, hahaha.
Untung saya ndak pernah dimarahi Ibu saya gegara sewa komik. Justru Ibu saya mendukung, karena beliau juga suka, hahaha. Malahan sering beliau yang lebih ndak sabar mau baca seri selanjutnya. Begitu juga adik-adik saya. Saya ingat, pernah kami hampir begadang semalaman karena adik saya sewa Harlem Beat (komik tentang basket) belasan seri sekaligus, terus kami maraton baca semalaman.

Saya pun membagikan informasi berharga itu ke salah satu grup WhatsApp. Lalu kami sibuk semalaman membahas komik-komik apa saja yang berkesan buat kami. Keluar semua deh tuh, judul-judul komik jadul, dari Topeng Kaca, Mari-Chan, Rose of Versailles, Pansy, Candy-Candy, Throbbing Tonight, Miriam... Terus habis itu sibuk membahas karakter-karakter cowoknya yang cakep-cakep dan bikin jatuh cinta. Sungguh emak-emak lupa diri. Lalu kami pun galau dan baper berjamaah, mengenang masa-masa gambar dua dimensi itu mengisi hari-hari kami. Kalian yang juga akrab dengan judul-judul serial komik di atas, pasti akan mengerti perasaan kami.

Kami pun janjian untuk pergi ke obral buku murah itu esok harinya. Tapi ternyata toko ditutup satu hari karena mau dirapikan. Pengunjung yang datang antara kelewat antusias dan brutal sih, bikin buku-buku yang sudah ditata rapi jadi berhamburan di lantai. Saya saja yang lihat jadi ngilu, membayangkan capeknya merapikan ribuan buku seperti itu. Dan karena insiden penghamburan tak berperasaan buku-buku tersebut, sang pemilik terpaksa menambah pegawai, yang berakibat naiknya harga buku, dari seribu menjadi dua ribu rupiah untuk komik.

Salah satu tumpukan harta karun

Ruko yang terletak di Jl. Pongtiku, Makassar ini sebenarnya bukan toko buku, melainkan tempat penyimpanan ribuan buku tadi. Jadi komik dan novel yang diobral ini adalah buku-buku bekas rental komik. Pemiliknya adalah sepasang suami istri dokter yang memang suka dengan komik dan novel. Dulu mereka punya usaha persewaan buku yang lumayan hits di Makassar. Karena persewaan buku akhirnya tutup karena kalah bersaing dengan era digital, mereka pun akhirnya memutuskan menjual murah buku-bukunya. Di era tahun 90an sampai awal 2000an, rental buku itu sesuatu banget. Saya pikir di Jogja saja yang begitu, ternyata di Makassar juga. Dulu belum ada gadget beserta aplikasi-aplikasi hiburannya, jadi salah satu dari sedikit hiburan anak muda jaman dulu ya di rental buku itu. *lalu saya merasa tua*

Sampai mau nengok ke dalam saja ndak bisa

Di hari yang ditentukan, kami mulai heboh dari pagi, saya, Nanie, Unga, dan Ina. Nanie yang paling semangat, dia sampai di lokasi jam 9 pagi. Waktu Nanie tiba di sana sudah penuh orang, dan mulai hari itu diterapkan sistem antrian serta dibatasi waktunya. Tiap orang hanya punya waktu 30 menit. Nanie dan Unga dapat antrian nomer 180an, saya dan Ina dapat shift siang dengan nomer antrian 130an. *lalu pingsan*. Katanya, orang-orang sudah mulai berdatangan sejak jam 7 pagi! Ini mau beli buku atau antri sembako murah, yak?


Saya tiba di sana sekitar jam 1 siang, dan disambut oleh antrian yang penuh sekali sampai tumpah ruah ke jalan. Eh, ndak sampai segitunya juga sih, hahaha. Tapi asli ramai sekali. Mau nengok ke dalam saja susah. Mau duduk juga ndak ada tempat. Mana matahari lagi lucu-lucunya lagi. Orang-orang yang mengantri itu banyak yang sudah datang sejak pagi, bertahan di situ dengan sabar menunggu giliran. Kebanyakan yang ada di situ kelihatannya orang-orang jaman dulu yang ingin bernostalgia juga. Banyak yang baru pertama kali datang, tapi ndak sedikit juga yang sudah kedua atau ketiga kalinya ke situ. Niat amat, yak?

Teman mengantri

Saya pun, demi melihat satu ruangan penuh dengan tumpukan komik begitu, jadi semakin bersemangat, resah dan gelisah menunggu nomer antrian saya dipanggil. Seumur-umur, baru sekali itu saya galau gegara buku, hahaha. Berbekal dua botol Pokka NATSBEE Honey Lemon saya tegar mengantri di bawah terik matahari, serta debu dan polusi jalan raya *lebay*. Favorit saya banget sih, si minuman madu lemon NATSBEE Honey Lemon ini. Selain rasanya enak, manfaatnya buat tubuh juga oke.


Manfaat madu dan lemon buat tubuh sudah ndak perlu dipertanyakan lagi lah ya. Madu mengandung antioksidan, flavonoid, fenolat, beberapa vitamin seperti vitamin C dan E, serta berbagai mineral seperti zinc dan zat besi. Madu dipercaya dapat meningkatkan stamina, mencegah diabetes, menurunkan kadar kolesterol tubuh, bahkan dapat membantu proses penyembuhan ketika sedang sakit. Lemon kaya akan vitamin C, selain itu juga mengandung vitamin B, dan beberapa mineral lain seperti kalsiym, magnesium, fosfor, protein, dan karbohidrat. Rutin meminum air lemon dipercaya memiliki banyak manfaat, dari mengatasi masalah pencernaan, hingga membuat kulit lebih sehat.


Dulu saya lumayan rajin minum air lemon plus madu tiap pagi. Cuma kadang suka ribet nyiapinnya. Nah, NATSBEE Honey Lemon ini praktis banget. Ndak perlu peras-peras lemon dulu. Kandungan madu dan lemonnya membantu untuk membuang zat-zat tidak baik yang masuk dalam tubuh gegara polusi, stres, atau gaya hidup tidak sehat. Enak sekali diminum terutama kalau lagi butuh recharge energy, atau pas lagi aktif-aktifnya dengan kerjaan atau kesibukan lain, macam saya yang lagi ngantri ini. Capek loh, mengantri seharian. Madunya bikin kuat, vitamin C dari lemonnya bikin segar. Tidak peduli seberapa padat aktivitasmu, Pokka NATSBEE Honey Lemon akan membantu untuk bersihkan hari aktifmu, bikin harimu #AsikTanpaToxic.


Shift antrian siang baru dimulai jam 3 sore dari yang rencananya jam 2 sore, mulai dari antrian nomer 1. Nah looo, terus saya yang nomer antrian 128 ini bakal masuk jam berapa cobaa? Makin gelisah tuh di situ. Bolak-balik nengok ke dalam, sebentar-sebentar nengok jam. Sementara orang-orang yang menunggu masih padat. Rasanya panik tiap lihat orang yang baru selesai berburu, membawa pulang kantongan besar, atau bahkan kardus penuh buku, dengan senyum sumringah lebar seperti baru saja menang undian. Huhuhu... Jangan sampai komik incaran saya sudah habis diambil orang. Gila-gilaan sih pada beli bukunya, kapan lagi coba ada komik dua ribuan? Saya sih ndak berharap dapat judul-judul populer macam Detective Conan, atau Doraemon. Karena komik-komik yang populer langsung habis di hari pertama. Ya ndak heran juga sih...

Sebotol Pokka NATSBEE Honey Lemon saya habis dengan cepat. Lumayan bisa mendinginkan dan bikin tetap segar bebas gerah di sore yang panas itu. Pelan-pelan, satu per satu orang mulai menyerah. Kepadatan antrian mulai berkurang. Horee! Jalannya antrian makin lama makin cepat. Saya yang sempat melihat salah satu komik incaran saya di salah satu tumpukan buku, terus-terusan melihat ke arah tumpukan itu dan berharap ndak akan ada orang lain yang ambil.

Jam empat lewat, setelah tiga jam menunggu dengan peluh dan penat, akhirnya tiba giliran saya untuk masuk, pemirsa! Perasaan lega, gugup, senang, campur aduk jadi satu. Iya sih, lebay, tapi ya memang gitu rasanya. Sesampainya di dalam, saya langsung mengamankan komik-komik yang sudah saya incar dari tadi. Lumayan, empat dari tujuh seri Miss Modern sudah di tangan. Sekarang waktunya cari tiga seri lainnya, dan judul-judul serial komik lain yang sudah tersusun rapi daftarnya di kepala saya sejak dua hari sebelumnya. Gampang mah itu, toh ini komik-komik sudah disusun sesuai abjad. Ekspektasinya sih begitu. Kenyataannya, daftar judul itu buyar begitu saya berhadapan dengan rak-rak buku. Saya bingung mana yang mau dicari duluan. Apalagi karena waktunya dibatasi, jadi makin paniklah saya.


Sepertinya saya lebih banyak menghabiskan waktu mondar-mandir tanpa arah dan tujuan yang jelas. Baru mau cari judul yang ini, eh, terus ingat mau cari yang itu juga, terus bongkar-bongkar tumpukan buku, dan ternyata judul yang saya cari ndak ada. Lalu kembali lagi ke rak buku pertama. Akhirnya saya malah fokus cari serinya Hikaru No Go, komik tentang catur tradisional Jepang, yang awalnya malah ndak ada di daftar saya.

Saya masuk dalam kloter antrian terakhir sore itu. Keranjang saya sudah penuh dengan komik. Dari sekian judul yang saya incar, cuma tiga yang saya dapat, itupun serinya ndak lengkap, Harlem Beat, Miss Modern (cuma kurang satu seri, huhuhu~~), dan Miriam. Sedangkan Hikaru No Go yang di luar rencana saya malah yang paling banyak serinya saya ambil. Tapi begitupun saya sudah bahagia sekali. Membawa pulang 30an komik hanya dengan membayar 60 ribuan rupiah, siapa yang ndak bahagia? Yah, kecuali kalau kamu bukan penggemar komik sih, hahaha.

Sale buku murah itu masih berlanjut sampai sekira dua minggu sesudahnya. Kabarnya memang menyebar luas, bahkan konon banyak yang datang dari luar kota hanya untuk berburu buku. Dari beberapa postingan di sosial media yang saya ikuti, kebanyakan memburu buku yang punya nilai sentimentil buat mereka. Seperti halnya saya, mereka pun berburu kenangan. Teman saya yang lain masih beberapa kali datang ke sana lagi, mencoba menuntaskan rasa penasaran karena belum dapat buku-buku yang mereka cari. Saya mah, sudah cukup puas dengan yang saya dapat, ditambah satu set Throbbing Tonight (minus satu seri) yang berhasil didapatkan Nanie untuk saya (terimakasih, Nanieeee...!) Sekarang tinggal duduk-duduk manis deh, baca komik sambil nyeruput Natsbee Honey Lemon.


Komentar

  1. wah kalau ada di daerah aku pasti aku bakal ke sana juga

    BalasHapus
  2. wah penyuka komik juga yah.. Jadi inget komik pertama ku adalah chin me, kungfu boy... Seru yah baca komik, mungkin minat membaca bahkan menulis blog masolo lahir dari komik itu kali yah..hahahhaha...

    salam inspirasi,
    sesuapnasi

    BalasHapus
  3. Ya allah mbaaaa, kalo ini di jakarta, aku bakal datangiiiin! Hahahaha... Akupun tergila2 ama komik dan novel. Sukaaaaak banget. Gpp deh bekas yg ptg halaman lengkap kan yaaaa :D. Buatku buku kyk obat dr segala macam penyakit sih. Aku lbh rela ditinggalin di toko buku daripada di tempat2 fancy lainnya :p. Disuruh nunggu jam2an pun, gpp deh, yg ptg di toko buku hahahah

    BalasHapus
  4. Di Jkt susah bgt nih cari used book gini, kalaupun ada entah dimana nyarinya hihihi

    BalasHapus
  5. Ddeh, bagusnya itu promonya dih sampai2 rame begitu pas hari penjualan komiknya. Di antara komik2 itu, saya tahu Candy Candy dan Topeng Kaca. Tapi sebatas tahu, ndak kenal wkwkwk. Yang lainnya saya tak tahu. :D

    BalasHapus
  6. Duh itu harta karunnya, bejibun..hehe
    Andai waktunya bebas ya, Teh. Bawa kantong lah, bungkus yang banyak..wkwk

    BalasHapus
  7. The researchers, who included Christopher Stokes from the Rowland Institute, plan to proceed growing the system for velocity and to refine it to print even finer details. The potential of volumetric 3D printing is seen as a game changer, as a result of|as a outcome of} it will eliminate the necessity for complicated support structures and dramatically velocity up the method when it reaches its full potential. Think of the “replicator” from “Star Trek” that materializes objects all of sudden. The researchers current a way to help the printers reside a lot as} their names and ship a “true” 3D form of printing. In model new} paper in Nature, they describe a technique of volumetric 3D printing that goes past the bottom-up, layered strategy. The course of eliminates the necessity for support structures as a result of|as a outcome of} the satin panties resin it creates is self-supporting.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer