[REVIEW FILM] JOKER : KETIKA TERTAWA BUKAN BERARTI BAHAGIA


Pernah dengar ungkapan "laughter is the best medicine?". Tertawa, dipercaya mempunyai dampak positif. Tertawa dapat meningkatkan kekebalan tubuh, menjaga kesehatan, dan menghindarkan stres. Tapi apakah selalu seperti itu? Film Joker yang baru beberapa hari yang lalu saya tonton, yang juga sedang banyak dibicarakan orang sekarang, menunjukkan sisi lain dari tawa. Bahwa tertawa, tak selalu berarti bahagia.

****

Film ini bercerita tentang Arthur Fleck (Joaquin Phoenix), dengan latar belakang kota Gotham di awal tahun 80an yang penuh dengan kekacauan. Hidupnya penuh dengan ironi. Dia bekerja sebagai badut, bercita-cita ingin jadi stand up comedian, dan dipanggil Happy oleh ibunya. Dia percaya bahwa dia dilahirkan untuk membawa kebahagiaan. Selain itu dia juga mengidap pathological laughter (penyakit ini beneran ada, by the way), suatu kondisi medis yang membuat dia akan tertawa tak terkontrol tiap dia merasa tertekan atau sedih. Tertawa, adalah kesehariannya. Tapi dibalik semua tawa itu, jiwanya jauh dari kebahagiaan. Kepahitan demi kepahitan, kekecewaan, bullying, tidak dianggap, depresi, pengkhianatan, dipermalukan, pelan-pelan mengubah Arthur Fleck yang kesepian menjadi Joker, si penjahat, yang dielu-elukan, in a bad way, or good, or bad. Well, this movie will get you confused, I tell you.

Alur cerita film ini lambat di awal, tapi tidak membosankan. Bahkan kita akan terhanyut dengan alam pikiran Arthur. Barulah nanti di sekitar sepertiga akhir film ceritanya akan sangat intens. Pengambilan gambarnya menarik, membuat kita merasa seolah-olah benar-benar berada di sana. Suasana suramnya dapet banget. Ditambah lagi scoring yang hanya berupa permainan cello tunggal, tapi iramanya menyayat-nyayat kalbu. Ada beberapa twist tak terduga, yang bakal bikin hati lebih mencelos.


On top of that, akting Joaquin Phoenix yang LUAR BIASA GILA KERENNYA YA AMPUN SUMPAH! Dia benar-benar bisa menampilkan rasa sakit yang Arthur alami. His gesture was painful, his stare was painful, his smile was painful, his laughter was even way more painful. Sumpah ya, dengar Arthur tertawa, apalagi ketika pathological laughternya lagi kumat, kita ndak akan bisa ikut ketawa. Yang ada malah ikut merasa sedih dan sakit. His laughter is haunting!Lalu ketika akhirnya dia menjadi Joker, tawanya akhirnya berubah menjadi tawa yang bebas, yang bikin penonton ikut merasa senang, which is sick, considering he was laughing happily after commited a crime.

Film yang disutradarai oleh Todd Phillips ini film yang sangat kelam. Jangan berharap adegan berantem-berantem ala film superhero yang penuh ledakan. Adegan kekerasannya ndak banyak, hanya 3-4 scene seingat saya, tapi eksplisit dan sadis. It's more about psychological terror than action scenes. Well, because it's not an action movie. There were so much pain and sadness. Saking sedihnya sampai saya ndak bisa nangis, tapi merasa sesak nafas. Butuh waktu agak lama untuk saya bisa kembali "normal" setelah nonton ini. Sepertinya, para penonton lain yang bersama saya waktu itu juga merasa hal yang sama. Ndak ada yang bergegas berdiri dari kursinya setelah film selesai dan lampu studio kembali menyala. Everyone was like stunned. Seperti yang saya bilang di atas, saya seperti tanpa sadar jadi ikut senang dan menyetujui kejahatan yang Joker lakukan, lalu jadi merasa bersalah sendiri, lalu bingung.

Buat kamu penggemar Batman, kamu akan senang karena film ini ada kaitannya juga dengan masa lalu si superhero dan film-film Batman sebelumnya. Tapi buat yang bukan penggemar Batman, seperti saya, tetap bisa menikmati film ini dengan baik kok. You don't have to be a Batman or DC comics fan to be able to enjoy it.


Buat saya pribadi, film ini lebih tentang awareness of mental illness. Bahwa kesehatan mental itu sangat penting. Kita ndak pernah tahu di balik senyum atau tawa atau riang gembiranya seseorang, pertarungan macam apa yang harus dia hadapi di dalam batinnya. Siapapun bisa jadi Joker, dan siapapun bisa tanpa sadar ikut menciptakan Joker. Terutama di zaman sekarang ini, saat orang bisa dengan gampangnya merendahkan orang lain. Film ini sangat relatable karena ya kurang lebih seperti itulah keadaan society sekarang ini. Orang jahat terlahir dari orang baik yang tersakiti, katanya. Mungkin benar. Tapi menurut saya lebih cocok dibilang, orang jahat terlahir karena orang baik yang ndak peduli. So, be kind to each other.

Terakhir, dan ini penting, film ini BUKAN untuk anak-anak. Jadi tolong ya, para orang tua yang pengen nonton film ini, jangan bawa anak di bawah umur! Titipin dulu anaknya ke kakek neneknya kek, atau gantian nontonnya sama pasangan. Serius deh, anak-anak bisa trauma nontonnya. Buat kamu yang lagi dalam kondisi mental yang ndak stabil juga sebaiknya ditunda dulu nontonnya, atau paling ndak ajak teman, jangan nonton sendiri. For some it might triggers anxiety, be wise. Overall, Joker is a 9/10 for me. It's a must watch, but watch at your own risk. Yang sudah nonton, setuju sama saya, atau punya pendapat sendiri? Let's share your opinion.

Komentar

  1. Saya pernah baca di sebuah review kalo kita punya kemungkinan gangguan jiwa atau tekanan mental, gak boleh juga nonton film ini.
    Duh, ngeri banget yak!...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kalo ndak siap mental memang trigger sekali ini film kak. Karena kita dibawa masuk ke alam pikirannya Arthur yang "mengganggu".

      Hapus
  2. Film yang kelam lebam namun indah..

    BalasHapus
  3. Sy baca review ta saja kak nah sy sesak kurasa. Yahhh manusia harus bisa memanusiakan sesamanya manusia

    BalasHapus
  4. Dari kemarin pengen nonton tapi belum jadi-jadi. Tapi denger cerita temen yang udah nonton dan baca beberapa review kok ya kayaknya ngeri ya.

    BalasHapus

Posting Komentar

Postingan Populer