Mengenal DID (Dissociative Identity Disorder)

Salah satu hal yang menarik minat saya adalah tentang pikiran manusia. Pikiran manusia adalah sesuatu yang sangat kompleks. Dia bisa sederhana, tapi bisa juga sangat rumit. Ngerti 'kan bagaimana kadang rasanya susah sekali memahami seseorang? Nah, bagaimana kalau seseorang itu ternyata terdiri dari beberapa orang yang berbeda? Bingung, ya? 

Belakangan ini saya suka nonton video tentang isu kesehatan mental di YouTube. Salah satu yang menurut saya sangat menarik adalah tentang DID (Dissociative  Identity Disorder). Pernah dengar tentang orang dengan kepribadian ganda? Nah, DID ini dulunya disebut Multiple Personality Disorder atau kepribadian ganda. Perubahan istilah ini karena orang yang mengalami kondisi ini bukan cuma punya beberapa kepribadian, tapi juga identitas yang benar-benar berbeda yang hidup di dalam satu tubuh. Tulisan ini masih sangat dangkal, dan kalau ada yang punya pengetahuan lebih tentang DID, please tell me more in the comment section. I would love to read. 😊

Pencetus DID berasal dari trauma ekstrim yang dialami ketika masih anak-anak, seringnya karena mengalami kekerasan, baik fisik, seksual, maupun emosional. DID tidak bisa baru muncul ketika seseorang sudah dewasa. Kondisi tersebut dimulai sejak anak-anak, ketika kondisi mentalnya belum matang. Jadi dia ini semacam mekanisme koping yang secara tidak sadar diciptakan oleh pikiran si anak tersebut untuk melindungi dirinya sendiri. Meskipun gejalanya muncul sejak kecil, tapi banyak kasus yang baru terdiagnosis setelah mereka dewasa. 

Ada beberapa gejala yang dialami oleh penderita DID, antara lain :
- memiliki dua atau lebih identitas atau keadaan kepribadian yang berbeda. 
- gangguan identitas : perubahan mood, perilaku, ingatan, kesadaran (sering lupa atau tidak merasa pernah melakukan sesuatu), dll.
- kesenjangan ingatan tentang masa lalu, lingkungan, orang di sekitar, peristiwa (tiap identitas punya cerita latar belakang sendiri).  (psychologytoday.com)

Sumber : did-research.org

Identitas-identitas baru yang lahir ini (disebut dengan alter) biasanya punya kepribadian yang kontras dengan kepribadian primer (host)nya. Meskipun dimulai sejak kecil, tapi ada beberapa alter yang baru muncul setelah dewasa. Alter bisa berjenis kelamin yang sama dengan host, bisa juga berbeda. Bisa berasal dari etnis yang berbeda, punya hobi dan minat yang berbeda, umur yang berbeda, bahkan kadang ada yang alternya berwujud binatang atau bukan manusia. Perilakunya pun berbeda-beda, dari cara bicaranya, gesturnya, kebiasaan, ya karena memang ibaratnya mereka orang yang berbeda. Para alter ini punya biasanya punya peran masing-masing. Ada yang berperan sebagai pengasuh, ada yang berperan sebagai pelindung, ada yang hanya keluar di waktu-waktu tertentu. 

Apakah alter selalu jahat?

Sebelumnya, kalau dengar istilah "kepribadian ganda" pikiran saya langsung mengarah ke Dr. Jekyll and  Hyde, karakter fiktif tentang seseorang dengan kepribadian ganda, yang satu baik, tapi yang satu jahat. Di film-film pun digambarkan kalau alter ego itu seringnya jahatnya nda ketulungan, dan ngeri. Tapi kenyataannya tidak seperti itu. Bahwa ada alter yang sifatnya keras atau temperamental, iya. Tapi ndak sedramatis dan sengeri yang ada di film atau cerita fiksi. 

Salah satu film tentang DID

Jessica Clark, misalnya. Perempuan asal Wales ini beberapa tahun terakhir aktif di kanal YouTube-nya, MultiplicityandMe, untuk berbagi cerita tentang DID yang diidapnya. Jess punya empat alter, yang semuanya adalah laki-laki. Jess pernah bilang, mungkin itu disebabkan karena trauma masa kecilnya, yang membuat dia berpikir seandainya dia laki-laki mungkin dia tidak harus mengalami trauma tersebut. Keempat alter tersebut digambarkan sebagai pribadi yang baik dan menyenangkan. Ada yang agak keras kepala, tapi ndak jahat.

Lain lagi dengan Jeni Haynes, yang mengaku punya 2.500 kepribadian. Jeni menjadi korban kekerasan, fisik dan seksual, dari ayahnya sendiri sejak umur 4 tahun. Saking ngerinya kekerasan yang dia alami, dia pun menciptakan 2.500 alter tersebut agar dia bisa bertahan. Lalu setelah puluhan tahun berjuang, dia dan pasukan altersnya berhasil memenjarakan sang ayah. Kasus Jeni menjadi kasus pertama di Australia yang menerima alters sebagai saksi. Dan apakah alters tersebut ada yang jahat? Tidak.

Jeni Haynes. (Foto : Google)

Apa yang terjadi ketika alter muncul?

Jess menggambarkan DID itu seperti berada di dalam sebuah mobil. Mobil adalah tubuhnya, dan orang-orang yang di dalam mobil adalah Jess dan alternya. Yang memegang kemudi adalah kepribadian yang sedang muncul. Ada kalanya Jess adalah pengemudinya, yang memegang kontrol. Ada kalanya Jess duduk di samping pengemudi, di mana dia bisa melihat jelas jalanan tapi ndak punya kendali. Kadang dia duduk di kursi belakang, jadi dia ndak terlalu sadar dengan kondisi jalanan. Ada kalanya juga dia di bagasi, dimana dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi. Tapi kondisinya berbeda-beda tiap orang, sih. Ada yang mengalami seperti Jess, tapi ada pula yang selalu tidak sadar setiap alter mengambil alih, ada juga yang setengah sadar. 

Munculnya alter ke dunia luar juga bermacam-macam caranya. Sering karena ada pemicu khusus, misalnya stres, tapi ada juga yang terencana. Seringkali waktu kemunculannya hanya sebentar, tapi ada juga yang sampai bertahun-tahun. Ada pengidap DID di salah satu kanal YouTube yang saya tonton, mengaku kalau salah satu alternya menguasai tubuhnya selama 16 tahun. Jadi selama 16 tahun itu dia ndak ingat dia ngapain saja. Membayangkan rasanya seperti  apa  saya ndak bisa. 

Jess dan alternya. (Foto : Instagram @multiplicityandme)

Biasanya para alter ini saling mengenal satu sama lain. Mereka menyebut kehidupannya sebagai sebuah sistem. Jadi di dalam kepala, atau the inner world, mereka tuh saling ngobrol. Di dalam sistemnya Jess, para alter ini malah digambarkan sebagai sebuah keluarga. Ada Jamie, yang berperan sebagai caretaker. Ada Jake, adiknya Jamie. Ada Ed, suaminya Jamie (Jamie is bi, Ed is gay). Lalu ada Ollie, anaknya Jamie dan Ed. Ribet ya, kedengarannya?

Dapatkah penderita DID hidup normal?

Dari video-video tentang penderita DID yang saya tonton, mereka semua hidup layaknya orang biasa kok. Mereka tetap sekolah, bekerja, bahkan menikah dan punya anak. Pasti butuh perjuangan yang jauh lebih keras dan lebih susah daripada orang biasa, tapi bukan berarti mereka ndak bisa. Belum ada pengobatan untuk kondisi ini, tapi penderitanya bisa melakukan psikoterapi untuk mengurangi dampak negatifnya. Adam Duritz (vokalis The Counting Crows), komedian Roseanne Barr, dan mantan atlet NFL Herschel Walker adalah beberapa selebritas yang diketahui mengidap DID. Konon, Lady Gaga dan Nicki Minaj juga. Intinya sih, mereka tetap manusia biasa, yang punya hak yang sama untuk hidup layaknya orang biasa. Mereka juga bisa berprestasi.

Membaca dan menonton video tentang DID ini membuat saya terpukau. Beberapa ceritanya tidak pernah terbayangkan sebelumnya, bahkan susah dipahami oleh nalar saya. But hey, as Lemony Snicket said, "Just because you don't understand, it doesn't mean it isn't so." So I chose to believe, that it does exist.


Referensi :
- psychologytoday.com
- did-research.org
- YouTube : MultiplicityandMe, The Entropy System.

Komentar

Postingan Populer